Ya, talak 2.
Pernahkah membayangkan menjadi aku? Atau saat ini sudah menjalani hidup yg lebih dari yg aku alami saat ini?
Hmm kalo begitu, kita para wanita termasuk wanita2 hebat dengan segala kelebihan kekurangan serta kualitas yang kita punya 🙂
Singkat cerita..
September 2013 suamiku menikahi aku.
Kami menjalani pernikahan dg baik, meski pd akhirnya aku sadar tidak gampang hidup berumah tangga.
Juli 2014, suamiku meminta izin pada ayahku untuk menceraikan aku. Jatuhlah talak 1nya padaku. Kebiasaan mengucapkan cerai serta menyumpahi aku dgn ucapan2 kejamnya menjadikannya sering mengeluarkan kata2 yang tak pantas suami ucapkan kepada istrinya. Tapi waktu terus berlalu, kamipun rujuk kembali.
Juli 2015 tepatnya tanggal 20, hari ke4 idul fitri... Suamiku kembali menjatuhkan talaknya kepadaku. Talak 2 pun aku sandang. Ia memproses dengan lancar perceraian kami di salah 1 pengadilan agama jakarta pusat. Tanpa berfikir panjang, ia mengambil keputusan itu lagi dan benar2 ingin membuang aku dalam hidupnya dan melepaskan aku sebagai istrinya. Selama itu, dia tidak menafkahi aku selama aku dalam masa iddah. Aku yg telah mengorbankan karirku untuk ikut pindah bersamanya ke luar kota, bingung kehabisan cara bagimana aku harus melanjutkan hidupku kembali setelah disia siakan olehnya. Dibuang mentah2 olehnya. Setiap hari banting tulang mencari pekerjaan meski belum ada 1 perusahaanpun yang memanggilku. Aku menjalani hidupku dengan keterbatasanku. Syukurnya aku memiliki kedua orang tua yang sangat mencintaiku sepenuh hati tanpa syarat.
Aku kembali menjalani hidup bersama ayah dan mamaku.
14 september 2015
Aku dipanggil ke perusahaan tempat suamiku bekerja. Dengan tujuan pihak perusahaan ingin memediasikan perkaraku dgn suamiku. Tidak ada titik temu, suami tetap berkeras untuk meninggalkan aku / menceraikan aku.
Sampai pada akhirnya mungkin "mukjizat" Allah turun kepadanya melalui CEO perusahaannya, beliau meminta kami untuk berdamai / rujuk kembali. Dengan segala pertimbangan dan tetek bengeknya, kamipun menerima anjuran beliau untuk berdamai, rujuk kembali.
15 september 2015, kami rujuk disaksikan ustad yg mengikrar rujuk kepada kami dan tanda tangan di atas surat rujuk dengan segala konsekwensi dan peraturan2 baru untuk berubah 1 sama lain.
3 bulan berlalu pasca kami rujuk.
Hidup rumah tangga kami baik, meski tetap ada perselisihan paham. Bagiku, semua adalah wajar. Dimana pernikahan adalah menyatukan 2 anak adam hawa dalam ikatan janji suci dgn kriteria, karakter serta tabiat yg berbeda. Kami acap kali berselisih paham lagi. Tapi syukurnya tidak separah waktu dulu, meski dia masih memukulku, mungkin ada keinginannya untuk membunuhku, tapi aku tetap kuat menghadapinya. Kuat dan sabar, itulah kunciku. Dibalik rasa duka yg kami alami, kami juga kerap liburan keluar kota, atau sekedar menghabiskan waktu bersama keliling kota, makan dari resto to resto, nonton film horor favorit kami atau main PS/game bersama.
Satu kerikil kecil, menunjukkan siapa suamiku saat ini adalah masih sama seperti suamiku yang dulu. Dia tidak benar2 mencintaiku. Dia masih menunjukkan kepadaku betapa bencinya dia padaku. Betapa dendam itu masih ada dalam hatinya..
Ya, saat ini aku hidup bersama dengan pria yang adalah suamiku yang membenci dan menyimpan dendam padaku.
Aku tetap dengan ikhtiarku untuk hidup lebih baik dari keadaan sebelumnya, aku dengan tetap semangat untuk merubah segala sikap jelekku dulu, dan aku dengan segala keterbatasanku tetap belajar terus dan terus mencintai dia yg masih saja menyimpan dendam dan membenciku seumur hidupnya (itu kata2 yg sering ia ucap padaku tiap kali kami berselisih paham), tetap melakukan tugasku sebagai istrinya dengan baik, terlihat atau tidak terlihat, bismillah inilah aku yang sedang berikhtiar untuk terus menciptakan keadaan rumah tangga yang lebih baik dari sebelumnya.
Sementara di lubuk hatinya, ia masih menyimpan dendam yg membara padaku. Ia masih membenci aku seumur hidupnya. Ketika kupastikan untuk apa dia masih membenci aku disisa waktu dan kesempatan yg kita miliki ini? Tidakkah kau merasa menyesal hidupmu habis untuk membenciku? Waktu yg dapat kau gunakan untuk terus berbuat baik pada orang lain / keluargamu, dia gunakam untuk terus menyimpan dendam dan bencinya padaku.
Meski seperti ini, inilah hidupku.
Bagiku, tidak ada batas waktu dalam sebuah pernikahan. Kecuali sudah tidak saling cinta atau terpisahkan oleh maut.
Maka selama waktu itu tidak terbatas, maka selama itu pula akan kumanfaatkan untuk mencintai dia dalam keterbatasanku & kekuranganku.
Tiada hal yg dapat kulakukan lagi untuk dia kecuali tetap berbakti padanya, tetap menghormatinya, dan tetap mencintainya.
Akhir kata, hari ini dan seterusnya aku akan tetap mencintainya. Sampai Allah sendiri yg berkata "berhenti mencintainya" jika memang harus berhenti..
sedih banget, semoga segera terbuka hati suami untuk memaafkan agar semuanya menjadi berkah dan barokah, menjadi ladang pahala yg paling mulia, saya doakan mbak dan suami selalu diberi kekuatan agar sabar dan dapat membunuh ego, semoga cinta kalian terus tumbuh hingga akhir hayat nanti dan pada akhirnya tidak ada rasa benci itu lagi 🙏
ReplyDelete